12 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa


Judul: Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi
"Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada. 
Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku...
Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya.
Dengan sedikit kesabaran mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya..."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Nyambung dengan buku sebelumnya, kali ini kita digiring seolah-olah kita udah kenal banget sama penduduk Desa Yahwari, jadi Pak Pos berkuncir lumayan jarang muncul. 

Di buku kedua, dibagi dalam musim-musim, mulai dari musim semi sampai musim salju. Setiap musim punya cerita khas sendiri.

Di musim semi, ada kisah mengharukan mengenai seorang ayah yang menanam benih bunga-bunga hollyhock mulai dari gerbang desa sampai rumahnya untuk anak perempuannya. Jika suatu saat anak perempuannya pulang, sang ayah yakin, bunga-bunga ini sudah mulai bermekaran dan akan mengingatkan sang anak pada ibunya yang sudah pergi untuk selamanya.

Nasihat paling menggugah di cerita musim semi itu adalah tentang tunas muda. Ceritanya ada seorang anak perempuan yang memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, ayahnya berusaha untuk menghiburnya. Nasihat sang ayah supaya anak perempuannya tetap semangat adalah, "tunas-tunas muda ini berhasil menembus kulit kayu pohon yang jauh lebih keras dibanding kulit sapi. Bukankah itu luar biasa?", "Coba lihat di sebelah sana. Daun-daun kecil mereka jauh lebih rapuh dibanding kuku-kuku bayi yang baru lahir. Padahal mereka berhasil mengangkat gumpalan tanah yang beratnya seribu kali dirinya".

Ada juga kisah klasik Korea yang dituturkan penulis, yang deskripsinya bisa ditemukan di berbagai tempat di Desa Yahwari. Ada yang lucu, kisah kakek-kakek yang bahas kerutan di wajah yang dijadikan "simbol" pangkat militer. Makin banyak kerutan di kening, berarti makin tinggi pangkat militernya. Hihihi. Atau tentang sepasang suami istri yang jarang berbicara, tapi suaminya bikin surat cinta lewat huruf-huruf yang disusun di atas tanah, pakai kepingan kelopak bunga XD Aaaaw... soooo sweet!

Di cerita musim panas, banyak juga adegan romantis yang dilakukan oleh pasangan kakek dan nenek. Kebanyakan cerita dari Sepeda Merah ini karakternya manula. Karena di ceritanya, para pemuda Desa Yahwari kebanyakan meninggalkan desa ini untuk mencari nafkah di kota.

Ada yang lucu, ketika seorang cucu liburan di rumah neneknya, minta makan pizza. Karena si nenek sayang banget sama cucunya, semahal apa pun harga pizza, dibeli juga, walau menurut nenek, harga yang mereka bayarkan untuk makan pizza itu sama dengan empat ratus buah mentimun (di cerita ini, pizzanya berharga 20.000 won atau setara dengan IDR 221,842.61 - saat review ini ditulis, kurs 1 won = IDR 11,09). Jadi, waktu Pak Pos nanya ke nenek, "Kalian sudah makan pizza bersama?" si nenek jawab, "Lebih tepatnya kami baru pulang sehabis makan empat ratus ketimun". Hihi

Di cerita musim gugur, kebanyakan agak bikin sedih atau terharu. Misalnya kisah seorang kakek yang bangga akan pemberian cucunya. Kakek ini punya mainan dinosaurus Duli (karakter manhwa yang terkenal di era 1980-an) dan jadi gantungan ponselnya. Saking bangganya akan pemberian dari cucunya, ke mana aja si kakek pergi, karakter ini selalu dibawanya.

Ada juga tentang seorang ayah yang berhias menjelang kepulangan anak perempuannya. Yang cukur rambut lah, yang pake pewangi lah. Ah. So sweet! Sayangnya, hubungan Bunda sama YangKung nggak semesra itu xD Ada juga cerita mengharukan mengenai mangkuk-mangkuk nasi bersejarah. Atau tentang Kelas Sore yang lebih mengena karena mengenai akhir kehidupan seseorang.

Di cerita musim dingin, ada banyak kehangatan yang terjadi di musim dingin, jadi Pak Pos nggak terlalu merasa kedinginan ketika banyak tangan yang menawarkan kehangatan buat Pak Pos, yang sayangnya harus ditolak dengan halus, akibat terlalu banyaknya surat yang menumpuk sebab cuaca buruk. Ada juga cerita tentang warga Desa Yahwari mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.

Paling sedih dari kesemuanya adalah cerita penutup. Ini spoiler, tapi lebih sedih kalo dibaca langsung. Cerita mengenai seorang ibu yang senantiasa menantikan kepulangan putranya. Si ibu menunggunya di stasiun, tapi anaknya nggak datang juga. Si ibu pulang dengan perasaan sangat sedih, lalu pergi tidur. Tengah malam, ada mobil yang berhenti di depan rumah ibu ini, ternyata anaknya pulang. Tapi mata si ibu bukannya berbinar, malah merem. Alasannya takut silau dengan kekayaan yang dimiliki anaknya. Si ibu punya firasat kuat kalo kekayaan anaknya didapat bukan dengan cara yang halal. Pas anaknya mau ditangkap, si ibu bilang, "tunggu sampai dia bangun." Terus si ibu nyuguhin ubi kukus ke para tamu yang mau nangkap anaknya itu. Ibu ini siap nyerahin anaknya, tapi dia minta para penangkap ini menunggu si anaknya bangun, seraya bilang, kalo ibu ini tahu perbuatan haram anaknya. Aaaaaaa.... mrebes miliiiiiiii.....

Ketimbang ngereview, kayaknya Bunda lebih banyak cerita isinya, ya? Soalnya, review Bunda cuma satu kata: KEREN. Udah gitu aja. Hahaha. Nah. Nggak suka, kan, kalo Bunda cuma bilang gitu?

Oke, Bunda mau cerita tentang gambarnya. Setiap gambarnya, walau nggak ada teks narasi atau balon katanya, bercerita. Jadi, walau masuk ke satu halaman bergambar penuh tanpa panel-panel, Bunda tetap bisa membaca "cerita" di dalam gambar itu. Di kepala, kebayang narasinya kayak apa. Kayaknya Bunda mungkin lebih lama menatap gambar satu halaman penuh untuk dibaca, daripada baca panel-panel, deh. Heuheu. Kebiasaan, emang.

Terjemahannya enak. Nggak kaku, jadi gampang dicernanya, walau sebenernya semua katanya puitis dan daleeeeeeeeeeem banget.

Dibanding buku pertama? Kesannya sama, karena cara penuturannya sama. Bedanya, di buku kedua lebih filosofis ketimbang buku pertama. Buku ini highly recommended buat kalian berdua!

 Cheers! Love, xoxo




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*